Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan pos dari 2016

Berhenti

Kecewaku mengalir deras ke muara lepas ke lautan,
kemudian pecah menghantam pinggiran karang
hingga tak ada lagi yang bisa terucap,
sirna bersama buih di tepi pantai 

Mulai hari ini aku berhenti...

Benang Kusut

Menjalani hidup menguntai benang kusut, mencoba menulusuri setiap inci agar bisa di gulung dengan rapi. Namun perasaan sedih datang merasa ingin mengganti, lelah memperbaiki. Komentar datang silih berganti, menusuk hati, memecah hari, menjadikan lari sebagai pengganti, menepi..
Tapi hati tak bisa dibohongi, tak bisa pergi. Cukup kutub-kutub kusut yang di pangkas pergi, dan benang bisa disambung lagi. 
Tak ada yang hilang cuma sejenak menepi, tak ada yang hancur cuma sedikit lelah, tak ada yang pecah berpisah cuma sedikit jenuh dan membuat jarak. 
Pada akhirnya diri akan mengarah sendiri kepada hati dimana ia seharusnya pulang.  Tak ada yang salah pada takdir, tak ada yang salah dengan perasaan, kita hanya terlalu masuk dalam labirin pikiran yang membingungkan. 
 Gulung lagi yang rapi sambungan demi sambungan itu. Sederhanakan saja katanya,,

Terinspirasi Hatimu

Tak Bersyarat

Kepercayaan itu bagai ombak pasrah di hembus angin terdampar pecah ke tepian pantai. Hanyut sirna dalam laut lepas tanpa batas, tanpa syarat.

Begitu pun cinta, tak berbatas, tak bersyarat

Anak kecil

Kenapa semua orang senang melihat anak kecil?
Lucu? Imut? Gemes?
Individu kecil menjalani hidup dengan polos, tanpa topeng. Sedangkan individu dewasa telah bercampur dengan rasa takut, ambisi, kebohongan, dan lain sebagainya. Anak kecil itu egois? Tidak, mereka mengungkapkan apa yang sebenarnya, mencoba membuat orang dewasa mengerti tentang apa yg selama ini telah mereka lupakan, telah mereka tinggalkan sejak dewasaLucu saat ada pernyataan "maaf ya aku seperti anak kecil"Jangan salahkan anak kecil untuk keegoisan orang dewasa…sebuah catatan sore

Nanti

Akan ada apa nanti?Apakah akan masih ada kita?
Aku selalu tidak mampu mengucapkan selamat tinggal Masa lalu telah mengkristal jadi lembaran-lembaran halaman kehidupan yang belum ingin ku lanjutkan
Sekarang Dia mungkin jadi wanita yang paling bahagia  Aku telah berhasil Dia kubur dalam-dalam Merasa jadi wanita yang paling hina, tak punya muka Wanita yang selalu ingin kau buang jauh-jauh saat bersama Dia
Lalu sekarang aku harus melupakan kita Mencoba selalu tertawa dengan cerita mu dan Dia Mencoba tertawa setiap melewati kerumunan masa yang selalu berdoa untuk kita
Sayang yang keluar dari dirimu tak lebih dari sebuah kata yang tak bermakna Kau bilang juga tak ingin pergi Tapi kau terasa asing
Aku makin tidak tau apakah masih ada kita ...

Aku dan Tuhanku

Aku dan segala pertanyaan dalam pikiranku
Dan semua perasaan yang menyelimuti diri
Kebingungan akan masa depan
Dan kesedihan akan masa laluSemua keluhan menguap jadi butiran udara di langit
Semua tangisan mengering seiring berjalannya waktuHanya aku dan Tuhanku
Aku percaya