Langsung ke konten utama

Hujan di Kota Ini

Sore itu dia datang dengan tangis, "aku sudah lelah" katanya parau padaku. Aku tidak tega melihatnya, namun entah mengapa aku tak sanggup untuk memeluk dan menghiburnya. Ia adalah orang yang selama ini mendukung ku, setidaknya begitu yang terlihat oleh indera ku. 

Aku terus memaksa agar dia tidak datang, namun dia tetap saja tak mau mengurungkan langkahnya. 

Sontak wangi tanah basah menyeruak sore itu. Hujan turun deras di kota ini. Aku benar-benar tak habis pikir dengan tingkahnya. Aku cuma ingin semua suasana ini tetap damai. Kenapa dia selalu punya ide untuk menghapus pelangi dari otakku. Kadang aku bertanya apa sih yang dia inginkan, ingin aku bahagia atau cuma ingin menghancurkan hidupku. 

Akhirnya aku turunkan egoku untuk menerima dia, menemuinya dan mengikuti segala kemauannya. Dia bilang setelah ini ia tidak akan muncul lagi, ini yang terakhir. Aku benar-benar hancur melihat dia saat itu. Aku sungguh tidak tega, aku juga hancur malam itu. 

Namun saat dia beranjak pergi, aku tak mau menariknya kembali... kubiarkan hancur, aku bersalah, namun aku tak sanggup berdusta pada hati. 

Biarkan saja seperti ini...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Harapan.

Harapan adalah petunjuk arah bagi impian. Pohon ini menyimpan harapan dari anak-anak PSAA Budhi Bhakti.

Semoga semua harapan anak-anak ini dikabulkan oleh Allah SWT dan mereka menjadi anak-anak yang berkarakter positif dikemudian harinya...
Published with Blogger-droid v2.0.2

Cukup aku dan Tuhan yang tau

Sebenarnya apa yang bisa kita perbuat dengan rasa...
Tuhan yang telah menciptakan dan mengendalikan rasa

Kita tidak pernah ditawari kontrak untuk mencintai atau membenci seseorang dalam hidup
Tuhan yang mengatur pertemuan, perpisahan, rasa...

Tinggal dijalani
dengan bahagia
dengan kesal
dengan ikhlas
dalam hal ini kita yang tentukan

Kau boleh membenci aku atas kecewamu
Tapi aku tak akan pernah membencimu karna kecewaku
Aku tak akan pernah menyalahkan seperti yang kau lakukan

Siapa melempar energi negatif maka ia yang akan menuai sendiri hasilnya




Benang Kusut

Menjalani hidup menguntai benang kusut, mencoba menulusuri setiap inci agar bisa di gulung dengan rapi. Namun perasaan sedih datang merasa ingin mengganti, lelah memperbaiki. Komentar datang silih berganti, menusuk hati, memecah hari, menjadikan lari sebagai pengganti, menepi..
Tapi hati tak bisa dibohongi, tak bisa pergi. Cukup kutub-kutub kusut yang di pangkas pergi, dan benang bisa disambung lagi. 
Tak ada yang hilang cuma sejenak menepi, tak ada yang hancur cuma sedikit lelah, tak ada yang pecah berpisah cuma sedikit jenuh dan membuat jarak. 
Pada akhirnya diri akan mengarah sendiri kepada hati dimana ia seharusnya pulang.  Tak ada yang salah pada takdir, tak ada yang salah dengan perasaan, kita hanya terlalu masuk dalam labirin pikiran yang membingungkan. 
 Gulung lagi yang rapi sambungan demi sambungan itu. Sederhanakan saja katanya,,

Terinspirasi Hatimu