Langsung ke konten utama

Gerbong Kereta

Sore lainnya di stasiun kereta, tempat dimana kita pulang bersama. Tak bisa kuhitung lagi berapa kali kau bilang "aku sayang kamu" tapi aku masih belum bisa mengatakan hal yang sama. 

Tapi sesungguhnya sore itu begitu indah, aku tersadar bahwa selama ini aku tidak sendiri...

Kereta pun mulai bergerak dan kau mulai panik. Sudah lama kau tidak berada dalam gerbong itu. Kau mulai meracau mengenai banyak hal, tentang masa lalu, tentang ketakutanmu. Aku sebenarnya tak nyaman mendengar masa lalumu, entah kenapa aku juga tak paham akan perasaan itu. Tapi aku benar-benar tidak nyaman karena kau sering bercerita masa lalu mu padaku, walau senyum tak hilang dari wajahku.

Kau terus bertahan di gerbong itu, tapi aku pergi meninggalkan, kau bilang "sampai jumpa hari senin"... aku pun menutup hari dengan senyum manis dan bayanganmu.

Pagi datang dan aku belum mendapat kabar darimu. Aku bahagia saat kulihat layar handphone menunjukkan kau ingin berbicara denganku. Tapi suara yang kudengar begitu lembut menyapa... aku tersentak, dia terus bertanya seolah tak puas dengan jawabanku. Dia marah, menyalahkanku karena wajahku terpampang di layar handphone mu. Kau diam... dan aku pikir aku memang sendiri karena kau diam. 

Sejak pagi itu aku merasa berada di pihak yang berbeda denganmu. Ingin aku merasa bahwa kau memang tidak ada, tidak pernah ADA...

Waktu berlalu dan kau terus menghubungiku... aku tak mau mendengar suara itu lagi, tapi kau memaksa. Malam itu pun ku habiskan dengan air mata. 

Senin pagi pun datang dengan cepatnya. Aku masih lirih, berharap tidak bertemu denganmu lagi. Kereta pun datang, dan kau ada disana, kita masuk di gerbong yang sama. Kau tersenyum manis saat itu, kau bilang "jangan tinggalkan aku". Kau mulai bercerita tentang masa lalu, yang tidak ku suka dan cerita tentang telepon misterius itu. 

Aku percaya dengan ceritamu, tentang masa lalu, tentang telepon misterius itu... tapi hal itu membawa aku sedikit menjauh darimu.

Aku kecewa...

Cerita itu mulai mekar di gerbong yang sama dengan saat cerita itu hancur...

Aku tidak akan meninggalkanmu, aku tetap sahabatmu, namun aku tak bisa mencintaimu saat kau masih merasa bersalah. Karena rasa bersalah itu adalah harapan hidupnya. Itulah kenapa aku tak suka kau mulai bicara masa lalu, dan itu membuatku tidak yakin kau memilih untuk berada di masa ku ini...

Komentar

Pos populer dari blog ini

Pohon Harapan.

Harapan adalah petunjuk arah bagi impian. Pohon ini menyimpan harapan dari anak-anak PSAA Budhi Bhakti.

Semoga semua harapan anak-anak ini dikabulkan oleh Allah SWT dan mereka menjadi anak-anak yang berkarakter positif dikemudian harinya...
Published with Blogger-droid v2.0.2

Cukup aku dan Tuhan yang tau

Sebenarnya apa yang bisa kita perbuat dengan rasa...
Tuhan yang telah menciptakan dan mengendalikan rasa

Kita tidak pernah ditawari kontrak untuk mencintai atau membenci seseorang dalam hidup
Tuhan yang mengatur pertemuan, perpisahan, rasa...

Tinggal dijalani
dengan bahagia
dengan kesal
dengan ikhlas
dalam hal ini kita yang tentukan

Kau boleh membenci aku atas kecewamu
Tapi aku tak akan pernah membencimu karna kecewaku
Aku tak akan pernah menyalahkan seperti yang kau lakukan

Siapa melempar energi negatif maka ia yang akan menuai sendiri hasilnya




Berhenti

Kecewaku mengalir deras ke muara lepas ke lautan,
kemudian pecah menghantam pinggiran karang
hingga tak ada lagi yang bisa terucap,
sirna bersama buih di tepi pantai 

Mulai hari ini aku berhenti...