Langsung ke konten utama

Ah Poong

"Ayo ikut bersamaku" katamu sore itu. Aku setuju... kita memang suka menjelajah tempat-tempat baru, dan tentu saja aku sudah terlanjur berjanji untuk mau menemanimu saat kau butuhkan. 

Disana, di pinggir sungai itu kita menyusuri jembatan. Tak sedetik pun kau lepaskan genggaman tanganmu saat itu. Kita duduk di sana bersama memandang langit yang saat itu hitam tanpa bintang. Angin pun mendayu menghembus, membelai tubuh kita berdua. Kau bicara banyak dan aku mulai meneteskan air mata. Ceritamu begitu lembut membawaku pada kesedihan. Kau awalnya bilang sulit untuk bicara, tapi malam membawanya mengalir bagai sungai yang kita pandangi malam itu. 

Untuk kedua kalinya kau barkata "aku sayang padamu"... dan aku tak tahu harus kuapakan kalimat itu. 

Malam itu sangat lirih sekaligus indah... Maaf kalau aku cuma bisa mendengarkan saat itu. Aku tak bisa ikut menggenggam tanganmu walau aku tahu kau selalu ingin menggenggam tanganku. Aku bahkan tak ingin berkata "aku juga sayang padamu" seperti kau selalu mengatakannya kepadaku.

Saat ini aku hanya nyaman bersamamu, hanya itu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Harapan.

Harapan adalah petunjuk arah bagi impian. Pohon ini menyimpan harapan dari anak-anak PSAA Budhi Bhakti.

Semoga semua harapan anak-anak ini dikabulkan oleh Allah SWT dan mereka menjadi anak-anak yang berkarakter positif dikemudian harinya...
Published with Blogger-droid v2.0.2

Cukup aku dan Tuhan yang tau

Sebenarnya apa yang bisa kita perbuat dengan rasa...
Tuhan yang telah menciptakan dan mengendalikan rasa

Kita tidak pernah ditawari kontrak untuk mencintai atau membenci seseorang dalam hidup
Tuhan yang mengatur pertemuan, perpisahan, rasa...

Tinggal dijalani
dengan bahagia
dengan kesal
dengan ikhlas
dalam hal ini kita yang tentukan

Kau boleh membenci aku atas kecewamu
Tapi aku tak akan pernah membencimu karna kecewaku
Aku tak akan pernah menyalahkan seperti yang kau lakukan

Siapa melempar energi negatif maka ia yang akan menuai sendiri hasilnya




metafora ku di akhir tahun

perjalanan hidup bagaikan berjalan di padang rumput yang luas tanpa ada halangan apapun didepan mata, karena sesungguhnya kita sendirilah yang membuat halangan itu sendiri.  Aku telah berlari dengan nyaman di padang rumput yang luas, tapi tiba-tiba muncul tembok yang besar didepanku. Walaupun aku tahu hal ini akan terjadi tapi aku tetap bersemangat dan yakin bisa menembusnya. Namun akhirnya aku hanya bisa lewat disamping tembok itu untuk terus berlari ke arah cahaya yang terang. Aku tak mampu menghancurkan penghalang itu, tak mampu menyakitinya.