Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari 2015

Selamat tinggal

Siang ini Lombok terasa begitu panas. Aku masih saja bergulat dengan pikiranku sendiri. Aku memang terlalu sibuk beberapa minggu ini, itu membuatku sedikit tertekan dan gusar. Beberapa pesan ku tulis untukmu, aku sudah benar-benar muak dengan kesibukan ini.  Aku sedikit tenang setelah membaca beberapa pesanmu. Malamnya aku menghubungimu. Bukan untuk berdiskusi, aku hanya ingin mendengar suaramu. Hal itu membuatku merasa nyaman, karena aku tau ada orang yang selalu mendukungku. Kita tidak bicara banyak karena ternyata kau hanya ingin bilang selamat tinggal. Bye...

Profesi atau Jati Diri

Kalau kita lihat dalam kamus besar Bahasa Indonesia didik, mendidik artinya memelihara dan memberikan latihan. Mendidik mengandung nilai mengalirkan ilmu kepada orang lain dan memelihara agar ilmu itu tetap bermanfaat bagi orang tersebut. Dilihat dari definisi kata saja kita bisa paham bahwa "mendidik" merupakan suatu proses yang panjang dan membutuhkan pribadi yang telaten dalam melaksanakannya. Karena peserta didik adalah individu-individu yang nantinya akan berperan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya bahkan profesinya. Bahkan dalam sebuah lagu yang selalu diajarkan pada saya saat sekolah dulu yaitu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan. 
Dalam proses pendidikan tentunya tidak akan berjalan semulus yang kita bayangkan. banyak pihak yang berperan disana. Kita hanya melihat seorang guru datang ke kelas dan mengajar murid-muridnya, namun bukan proses dibalik semua tampilan itu. Kita jarang memperhatikan bahwa malam hari…

Pecah

Pada siang yang cerah ini aku bagaikan tersambar petir ditengah hujan deras yang mencekam. Kau menyuruhku membuka emailmu karena ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan, karena kau tidak punya jaringan internet di rumah. Mataku langsung tertuju pada satu email masuk yang dikirim oleh Dia. Kau sering bercerita kalau dia memang masih sering menghubungimu. Aku tidak peduli dengan email-email itu. Tapi aku tetap saja membukanya. 

Tanya

selalu dan selalu bayangan masa lalu itu mengganggumu
mengubah pandanganmu tentang masa depan
mengubah pandanganmu tentang orang lain
mengubah pandanganmu tentangku

semua ini membuatku mempertanyakan banyak hal
apakah kau memang berada disisiku
atau selama ini aku hanya sendiri berada di samping keramaian
keramaian yang kau ciptakan

entahlah...
aku belum tau jawabnya

Hujan di Kota Ini

Sore itu dia datang dengan tangis, "aku sudah lelah" katanya parau padaku. Aku tidak tega melihatnya, namun entah mengapa aku tak sanggup untuk memeluk dan menghiburnya. Ia adalah orang yang selama ini mendukung ku, setidaknya begitu yang terlihat oleh indera ku. 

Aku terus memaksa agar dia tidak datang, namun dia tetap saja tak mau mengurungkan langkahnya. 

Sontak wangi tanah basah menyeruak sore itu. Hujan turun deras di kota ini. Aku benar-benar tak habis pikir dengan tingkahnya. Aku cuma ingin semua suasana ini tetap damai. Kenapa dia selalu punya ide untuk menghapus pelangi dari otakku. Kadang aku bertanya apa sih yang dia inginkan, ingin aku bahagia atau cuma ingin menghancurkan hidupku. 

Akhirnya aku turunkan egoku untuk menerima dia, menemuinya dan mengikuti segala kemauannya. Dia bilang setelah ini ia tidak akan muncul lagi, ini yang terakhir. Aku benar-benar hancur melihat dia saat itu. Aku sungguh tidak tega, aku juga hancur malam itu. 

Namun saat dia beranjak pergi, …

I Love You

waktu terasa cepat berlalu dan hari-hari yang kulaui bersamamu pun begitu, bergerak cepat, terburu-buru. Kau semakin sering membisikkan sayang padaku dan aku pun mulai merasakan hal yang sama. 

Aku tak bisa berjanji padamu, tapi yang aku tahu saat ini aku yakin...

Untuk yakin ternyata terlalu banyak air mata yang harus mengalir, kau tak perlu tahu itu, dan aku masih tidak suka dengan waktu dimana kau mulai bercerita lagi tentang masa lalumu. 

Saat ini aku telah yakin, tolong jangan hancurkan lagi keyakinan ini, karena begitu sulit rasanya untuk jauh darimu... 

I Love You

Gerbong Kereta

Sore lainnya di stasiun kereta, tempat dimana kita pulang bersama. Tak bisa kuhitung lagi berapa kali kau bilang "aku sayang kamu" tapi aku masih belum bisa mengatakan hal yang sama. 

Tapi sesungguhnya sore itu begitu indah, aku tersadar bahwa selama ini aku tidak sendiri...

Kereta pun mulai bergerak dan kau mulai panik. Sudah lama kau tidak berada dalam gerbong itu. Kau mulai meracau mengenai banyak hal, tentang masa lalu, tentang ketakutanmu. Aku sebenarnya tak nyaman mendengar masa lalumu, entah kenapa aku juga tak paham akan perasaan itu. Tapi aku benar-benar tidak nyaman karena kau sering bercerita masa lalu mu padaku, walau senyum tak hilang dari wajahku.

Kau terus bertahan di gerbong itu, tapi aku pergi meninggalkan, kau bilang "sampai jumpa hari senin"... aku pun menutup hari dengan senyum manis dan bayanganmu.

Pagi datang dan aku belum mendapat kabar darimu. Aku bahagia saat kulihat layar handphone menunjukkan kau ingin berbicara denganku. Tapi suara yang kude…

Ah Poong

"Ayo ikut bersamaku" katamu sore itu. Aku setuju... kita memang suka menjelajah tempat-tempat baru, dan tentu saja aku sudah terlanjur berjanji untuk mau menemanimu saat kau butuhkan. 

Disana, di pinggir sungai itu kita menyusuri jembatan. Tak sedetik pun kau lepaskan genggaman tanganmu saat itu. Kita duduk di sana bersama memandang langit yang saat itu hitam tanpa bintang. Angin pun mendayu menghembus, membelai tubuh kita berdua. Kau bicara banyak dan aku mulai meneteskan air mata. Ceritamu begitu lembut membawaku pada kesedihan. Kau awalnya bilang sulit untuk bicara, tapi malam membawanya mengalir bagai sungai yang kita pandangi malam itu. 

Untuk kedua kalinya kau barkata "aku sayang padamu"... dan aku tak tahu harus kuapakan kalimat itu. 

Malam itu sangat lirih sekaligus indah... Maaf kalau aku cuma bisa mendengarkan saat itu. Aku tak bisa ikut menggenggam tanganmu walau aku tahu kau selalu ingin menggenggam tanganku. Aku bahkan tak ingin berkata "aku juga …

sudah

hai para pembicara diluar sana yang marah dan geram melihat pemerintah kalian pikir kami bagaimana? kalian yang diluar saja bisa muak melihatnya apalagi kami yang berada di dalam tiap tahun mencetak agen perubahan tapi untuk apa kalau hanya sebatas menunaikan tugas sebatas angka-angka yang dipakai untuk mendapatkan uang sebatas selesai sudah ... sudah... kepercayaan sudah mulai melemah penghargaan sudah hilang optimis tetap ada tetap membara di jiwa sampai datang masanya harus memilih bertahan membersihkan noda atau berhenti karena sudah terlalu lama kotor ...

ikhlas

aku disini terjatuh karenamu... sedih, sakit, terluka mencoba menyepikan telinga dari hiruk pikuk mereka mencoba membelai hati yang rapuh menyembunyikan muka dan menyeka air mata aku terima, aku tak akan membencimu tersenyum dan tetap memegang tanganmu aku merasa bodoh kemudian aku bertanya seberapa banyak kau puas dengan hidupmu, seberapa banyak kau mengeluh ini bukan perkara timbal balik bukan perkara adil namun kodrat manusia yang hanya bisa memberi bukan pengatur bukan penentu karena memberi tah harap kembali sakit tak harap menyakiti