Langsung ke konten utama

Dinginnya Pagi

Dinginnya pagi ini membekukan pikiran sehingga membangkitkan luka hati yang sudah lama dikubur dalam-dalam. Berusaha menjauh tapi sulit.

Tiba-tiba ingat dengan kata mereka yang katanya teman jiwa, yang katanya peduli, yang katanya sayang. Mereka bilang JANGAN..!
Jangan sampai kau merasa kami tak ada. JANGAN..! Jangan dekat dengannya karna nanti kau akan merasa melayang sehingga berubah menjadi kaumnya dan tak bisa lagi kami raih. Saat kau bersamanya kau akan merasa kami tak ada untukmu dan kau akan pergi. Namun semua itu entah sajak seorang pujangga di atas panggung atau drama sehari dalam sebuah kotak yang dipanggil televisi. Atau mungkin memang sengaja menggunakan kata "jangan" agar hal itu benar-benar terjadi.
Mereka bilang mereka pernah mengalami satu sahabat pergi. Tak ingin terulang lagi. Tapi entah mengapa aku malah mampu merasakan kenapa sahabat mereka pergi. Aku tau betul kenapa sahabat mereka lebih memilih bersama orang lain dibanding mereka.

Aku bagai anak hilang diantara kalian yang berucap sayang. Kemana kalian saat aku butuh jiwa lain untuk mengisi kotak 3x3 itu. Kemana kalian saat aku butuh jiwa untuk menolong saudaraku. Kemana kalian saat aku terpuruk tak punya harta sedikitpun. Kemana kalian saat aku menangis dan tak tau lagi untuk apa aku masih hidup. Kemana kalian saat aku butuh wajah-wajah bahagia yang hadir saat itu.

Kalian bilang kalian peduli saat aku mendapati diriku hanya seorang diri saat butuh bantuan kalian. Kalian pikir kalian sayang saat aku sendiri memikirkan, berjalan dan mencari.

Kenyataannya kali ini memang pahit. Aku pikir aku siapa sehingga mereka harus ada untukku. Aku pikir sepenting apa aku sehingga mereka peduli padaku. Kalian ada untuk dia saat dia jenuh. Kalian tertawa untuk menghibur dia yang luka hatinya. Kalian bahkan rela meninggalkan kesenangan demi menolong dirinya. Kalian melakukan segala cara untuk menjadi yang terbaik di depan dirinya di hari spesialnya. Kalian memang ada untuk dia bukan aku.

Disisi lain orang lain bilang aku bodoh!!! Buat apa memikirkan mereka. Buat apa sayang. Buat apa peduli. Buat apa khawatir. Buat apa semua kebaikan ini kalau mereka sama sekali tak ada untukmu. Buat apa muncul berjuta-juta kata maaf sedang mereka tak peduli telah melempari hatimu.

Ya.. memang aku marah. Lebih lagi saat aku merasa punya banyak sahabat. Aku marah pada diriku yang entah bagaimana membentuk pikiran dan perasaan kalau kalian itu sahabatku. Kalian yang peduli dan penuh kasih terhadapku diawalnya. Sudahlah.. Orang yang kalian hina dan kalian tertawakan itu yang pada kenyataannya ADA. Orang yang katanya tercipta dai sekumpulan niat jahat itu yang nyatanya peduli dan membantu. Tak masalah dengan semua kebodohan ini. Kalian hanya lima dari seribu. Tak masalah karna kalian tetap sahabatku. Tetap orang yang pernah mengisi cerita dalam hidupku.

Bersyukur aku punya Tuhan yang selalu memelukku. Inilah yang membuat aku kuat saat selalu ada untuk kalian walau kalian tak ada. Inilah yang membuat aku selalu sayang walau kalian terlihat tidak. Inilah yang membuat jiwaku selalu ada untuk kalian walau kalian sebaliknya. Karna sayang, peduli, khawatir, dan semua yang terucap darimu itu bukanlah penghias kata-kata. Semua kata-kata itu butuh bukti nyata. Senyata kasih sayang Tuhan yang membalas cintaku dengan banyak lagi orang yang bukan kalian yang juga cinta dengan nyata padaku. Sayang yang nyata. Peduli dan khawatir yang nyata.

Pagi ini memang dingin, dan aku tak akan dingin walau kalian dingin padaku...

Komentar

Pos populer dari blog ini

Pohon Harapan.

Harapan adalah petunjuk arah bagi impian. Pohon ini menyimpan harapan dari anak-anak PSAA Budhi Bhakti.

Semoga semua harapan anak-anak ini dikabulkan oleh Allah SWT dan mereka menjadi anak-anak yang berkarakter positif dikemudian harinya...
Published with Blogger-droid v2.0.2

Cukup aku dan Tuhan yang tau

Sebenarnya apa yang bisa kita perbuat dengan rasa...
Tuhan yang telah menciptakan dan mengendalikan rasa

Kita tidak pernah ditawari kontrak untuk mencintai atau membenci seseorang dalam hidup
Tuhan yang mengatur pertemuan, perpisahan, rasa...

Tinggal dijalani
dengan bahagia
dengan kesal
dengan ikhlas
dalam hal ini kita yang tentukan

Kau boleh membenci aku atas kecewamu
Tapi aku tak akan pernah membencimu karna kecewaku
Aku tak akan pernah menyalahkan seperti yang kau lakukan

Siapa melempar energi negatif maka ia yang akan menuai sendiri hasilnya




Berhenti

Kecewaku mengalir deras ke muara lepas ke lautan,
kemudian pecah menghantam pinggiran karang
hingga tak ada lagi yang bisa terucap,
sirna bersama buih di tepi pantai 

Mulai hari ini aku berhenti...