Langsung ke konten utama

MAAF

Malam itu hujan turun dengan lembutnya membasahi bumi. Pia masih duduk terdiam di kamarnya dengan hujan yang juga mengalir dari kedua celah matanya. Ia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Bagi Pia "maaf" adalah kata yang indah namun sulit untuk diucapkan. Kata ini bisa membawa ke arah perdamaian namun juga bisa membawa ke arah kehancuran. Saat kata "maaf" diucapkan dengan indah maka akan datang keindahan. Saat kata "maaf" diucapkan dengan benci maka akan datang kebencian. 

Pia kemudian berpikir "maaf" juga bisa muncul dalam sunyi. Begitu besar keinginannya untuk meminta "maaf" namun sejujurnya ia tidak ingin orang itu tahu jika ia sedang meminta "maaf". Ia bingung apakah hal itu adalah wujud penyesalannya??? Atau hal itu adalah wujud kemarahannya??? Atau bahkan wujud keegoisan yang tidak mau mengaku salah kepada orang lain??? Pia tidak mau miliknya direnggut. Ia hanya ingin apa yang menjadi miliknya selalu bersamanya. Ia yakin bahwa hal itu tidak buruk. Semua orang tentunya tidak mau berpisah dengan seseatu yang ia sayangi. Tentunya mereka ingin memilikinya selamanya pikir Pia. Sejenak ia merasakan lagi apa yang terjadi pada dirinya. Apapun yang ada di bumi ini tidak mungkin ia miliki selamanya. 

Beberapa minggu yang lalu Pia bertemu dengan seorang teman bernama Dodi. Ia begitu kaget mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Dodi. Ia baru menyadari bahwa pria yang selama ini bersamanya memiliki perasaan khusus pada dirinya. Pria itu bernama Tedi. Pia sungguh tidak menyangka Tedi mempunyai perasan khusus pada dirinya. Setelah saat itu Pia selalu berusaha memperjelas hubungannya dengan Tedi. Namun ternyata hal itu tidak berjalan mulus. Akhirnya Pia dan Tedi memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka. 

Pia masih duduk di kamarnya. Ia tidak menyesali apa yang terjadi antara ia dan Tedi. Akan tetapi ia tidak bisa menahan amarahnya saat Tedi menceritakan seluruh kegiatannya dan tidak mau melihat Tedi bersama wanita lain. Ia tahu bahwa sikapnya itu egois. Tapi itulah yang ia rasakan. Banyak hal sebenarnya yang muncul dipikiran Pia saat itu. Ia merasa apa yang ia lakukan pada Tedi juga ia lakukan pada setiap orang yang ada di sekelilingnya. Ia merasa sangat tertekan hingga hanya kata "maaf" yang muncul dalam dipikirannya. Walaupun "maaf" itu hanya muncul dalam kesunyian. Walau ia masih merasa tidak perlu orang itu tahu bahwa ia ingin meminta "maaf". 

Pia hanya ingin hidupnya indah...

By...viola

Komentar

  1. Pia...nama yang cantik..love this name..
    Pia hanya ingin selalu bersama orang yang disayanginya...tidak ada yang boleh mengambilnya dari Pia..
    namun Pia sadar bahwa sikapnya tersebut bisa berakibat buruk bagi hubungannya dengan orang lain dan dirinya sendiri...
    Pia menyadari bahwa yang dimilikinya sekarang adalah titipan dan sewaktu2 titipan itu harus dikembalikan...Pia harus bisa ikhlas pada saat itu tiba...Pia ingin memahami bahwa sayang tidak harus memiliki...tapi ia ingin melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya
    XoXo :*

    BalasHapus

Poskan Komentar

Pos populer dari blog ini

Pohon Harapan.

Harapan adalah petunjuk arah bagi impian. Pohon ini menyimpan harapan dari anak-anak PSAA Budhi Bhakti.

Semoga semua harapan anak-anak ini dikabulkan oleh Allah SWT dan mereka menjadi anak-anak yang berkarakter positif dikemudian harinya...
Published with Blogger-droid v2.0.2

Cukup aku dan Tuhan yang tau

Sebenarnya apa yang bisa kita perbuat dengan rasa...
Tuhan yang telah menciptakan dan mengendalikan rasa

Kita tidak pernah ditawari kontrak untuk mencintai atau membenci seseorang dalam hidup
Tuhan yang mengatur pertemuan, perpisahan, rasa...

Tinggal dijalani
dengan bahagia
dengan kesal
dengan ikhlas
dalam hal ini kita yang tentukan

Kau boleh membenci aku atas kecewamu
Tapi aku tak akan pernah membencimu karna kecewaku
Aku tak akan pernah menyalahkan seperti yang kau lakukan

Siapa melempar energi negatif maka ia yang akan menuai sendiri hasilnya




Berhenti

Kecewaku mengalir deras ke muara lepas ke lautan,
kemudian pecah menghantam pinggiran karang
hingga tak ada lagi yang bisa terucap,
sirna bersama buih di tepi pantai 

Mulai hari ini aku berhenti...