Langsung ke konten utama

Ego di Sore Hari

Yah... itulah aku. Aku bahagia dengan ini. Dengan semua kata terserah yang meluncur dari mulutku. Aku memang sering menjadikan setiap kejadian dalam hidupku sebagai sebuah misteri. Bukan menjadikannya sebuah urutan-urutan yang harus diselesaikan satu persatu. 


Terkadang aku merasa otak ini penuh dengan loncatan-loncatan pikiran yang tidak jelas kemana muaranya. Ada satu hal yang aku tidak suka dari itu. Aku tidak suka jika suatu pikiran muncul pada saat yang tidak tepat. Mungkin aku...


Sebenarnya sore ini tiba-tiba aku merasa ego-ku disenggol. Aku...


Kemudian aku melihat cahaya mentari sore menerobos pintu kamar langsung memancar ke tembok kamar. Aku ingin mencoret tembok yang terkena cahaya itu. Dengan sendirinya batangan berisi tinta itu aku mainkan disana. Mengalir bagaikan mata air yang tiada hentinya. Perasaanku pun tumpah bersama gambar-gambar itu. 


Yah... itulah aku. Aku yang tidak mau menuntut orang lain untuk memahaminya. Aku yang tidak mau menuntut orang lain untuk percaya. Karena tidak semua tindakan ku ada alasannya. Belum tentu ada alasan yang jelas saat aku memutuskan untuk berkata "tidak" atau berkata "ya". Tidak ada alasan yang jelas saat aku memutuskan untuk "pergi" atau "tinggal". Aku pernah bingung apakah ini suatu kekurangan atau keleihan dalam diriku. Aku ingat beberapa orang memang beranggapan perlu berkata "ya" walau sebenarnya ingin berkata tidak dalam situasi tertentu. Namun hal itu selalu sulit untuk dipraktekkan. Terkadang aku berpikir hal ini sedikit egois. Tapi itulah yang kurasakan saat itu. Dan tidak salah bukan untuk berkata jujur sesuai dengan apa yang ada di dalam diri. 


Sekarang aku bingung. Semakin banyak kata yang ku ketik maka semakin bingung aku. Aku tersadar untuk apa sebenarnya aku menulis hal ini. Aku sebenarnya sedang marah, sedih atau apa??? Bingung...mungkin ini cuma kujadikan wadah pikiranku yang mulai berlarian kesana kemari. 


Hanya wadah... no hard feeling...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Harapan.

Harapan adalah petunjuk arah bagi impian. Pohon ini menyimpan harapan dari anak-anak PSAA Budhi Bhakti.

Semoga semua harapan anak-anak ini dikabulkan oleh Allah SWT dan mereka menjadi anak-anak yang berkarakter positif dikemudian harinya...
Published with Blogger-droid v2.0.2

Cukup aku dan Tuhan yang tau

Sebenarnya apa yang bisa kita perbuat dengan rasa...
Tuhan yang telah menciptakan dan mengendalikan rasa

Kita tidak pernah ditawari kontrak untuk mencintai atau membenci seseorang dalam hidup
Tuhan yang mengatur pertemuan, perpisahan, rasa...

Tinggal dijalani
dengan bahagia
dengan kesal
dengan ikhlas
dalam hal ini kita yang tentukan

Kau boleh membenci aku atas kecewamu
Tapi aku tak akan pernah membencimu karna kecewaku
Aku tak akan pernah menyalahkan seperti yang kau lakukan

Siapa melempar energi negatif maka ia yang akan menuai sendiri hasilnya




Benang Kusut

Menjalani hidup menguntai benang kusut, mencoba menulusuri setiap inci agar bisa di gulung dengan rapi. Namun perasaan sedih datang merasa ingin mengganti, lelah memperbaiki. Komentar datang silih berganti, menusuk hati, memecah hari, menjadikan lari sebagai pengganti, menepi..
Tapi hati tak bisa dibohongi, tak bisa pergi. Cukup kutub-kutub kusut yang di pangkas pergi, dan benang bisa disambung lagi. 
Tak ada yang hilang cuma sejenak menepi, tak ada yang hancur cuma sedikit lelah, tak ada yang pecah berpisah cuma sedikit jenuh dan membuat jarak. 
Pada akhirnya diri akan mengarah sendiri kepada hati dimana ia seharusnya pulang.  Tak ada yang salah pada takdir, tak ada yang salah dengan perasaan, kita hanya terlalu masuk dalam labirin pikiran yang membingungkan. 
 Gulung lagi yang rapi sambungan demi sambungan itu. Sederhanakan saja katanya,,

Terinspirasi Hatimu