Langsung ke konten utama

Refleksi Tengah Malam

Aku mulai tersadar sejenak setelah begitu banyak pembicaraan malam ini. Sebenarnya apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Aku mulai memutar kembali otakku. Aku kembali merasakan saat-saat itu dan tersadar dengan perasaan tidak suka ini. Tersadar dengan komentar-komentar yang meluncur dari mulut ini. Lalu apa urusanku dengan perkataan orang lain? Kenapa aku terganggu dengan sikap orang lain?

Aku juga bingung harus mengawali dari mana. Aku tahu bahwa perasaan tidak suka ini datang karena aku sendiri yang belum sepenuhnya berdamai dengan masa laluku. Semua hal yang ada dan terjadi disekitarku itu tidak ada yang salah. Akulah yang belum bisa menerimanya. Selama ini aku selalu berdalih bahwa aku tidak bisa memaafkan orang yang seperti itu. Aku paling tidak suka ada orang yang bersikap seperti itu. Namun aku tidak pernah melihat kedalam diriku. Ada masalah apa diriku dengan orang macam itu???
Harusnya aku tidak menyalahkan sikap orang lain. Aku adalah seorang pemaklum yang handal. Tapi untuk satu hal aku belum mampu memakluminya. Aku sering berpikir apakah itu karena aku tidak berada pada posisinya. Bahkan untuk membayangkan berada pada posisi orang itu saja tidak. Aku tertegun setelah sepiring pai es cream dan sebungkus mi goreng masuk ke dalam perut ini. Aku mulai berpikir jika aku berada pada posisi yang sama seperti orang yang ku komentari. Sepertinya aku akan melakukan hal yang sama. Dan aku tidak yakin akan bisa lebih baik daripada dirinya saat ini. 

Terkadang aku sadar aku masih belum mampu masuk kedalam situasi orang lain. Aku memang sudah bertahun-tahun mendalami ilmu Psikologi. Tapi malam ini aku hanya ingin mencoba merefleksikan sikapku sendiri. 

Aku hanya ingin sejenak menjadi diriku tanpa embel-embel akademis apapun. Karena aku tidak bisa selalu berperan sebagai kotak pembuangan. Aku tak bisa selalu menjadi si "penerima" dan Si "pemaklum". Aku juga butuh waktu untuk menjadi diriku. Sekarang aku juga bingung apa ini masalah yang belum kuselesaikan atau kekecewaan seorang teman. Yang jelas aku paham bahwa diriku masih menyimpan kekecewaan terhadap sikap itu. 

Sebagai seorang teman aku hanya ingin berteman. Teman bagiku adalah segalanya. 

Love...viola

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Harapan.

Harapan adalah petunjuk arah bagi impian. Pohon ini menyimpan harapan dari anak-anak PSAA Budhi Bhakti.

Semoga semua harapan anak-anak ini dikabulkan oleh Allah SWT dan mereka menjadi anak-anak yang berkarakter positif dikemudian harinya...
Published with Blogger-droid v2.0.2

Cukup aku dan Tuhan yang tau

Sebenarnya apa yang bisa kita perbuat dengan rasa...
Tuhan yang telah menciptakan dan mengendalikan rasa

Kita tidak pernah ditawari kontrak untuk mencintai atau membenci seseorang dalam hidup
Tuhan yang mengatur pertemuan, perpisahan, rasa...

Tinggal dijalani
dengan bahagia
dengan kesal
dengan ikhlas
dalam hal ini kita yang tentukan

Kau boleh membenci aku atas kecewamu
Tapi aku tak akan pernah membencimu karna kecewaku
Aku tak akan pernah menyalahkan seperti yang kau lakukan

Siapa melempar energi negatif maka ia yang akan menuai sendiri hasilnya




Benang Kusut

Menjalani hidup menguntai benang kusut, mencoba menulusuri setiap inci agar bisa di gulung dengan rapi. Namun perasaan sedih datang merasa ingin mengganti, lelah memperbaiki. Komentar datang silih berganti, menusuk hati, memecah hari, menjadikan lari sebagai pengganti, menepi..
Tapi hati tak bisa dibohongi, tak bisa pergi. Cukup kutub-kutub kusut yang di pangkas pergi, dan benang bisa disambung lagi. 
Tak ada yang hilang cuma sejenak menepi, tak ada yang hancur cuma sedikit lelah, tak ada yang pecah berpisah cuma sedikit jenuh dan membuat jarak. 
Pada akhirnya diri akan mengarah sendiri kepada hati dimana ia seharusnya pulang.  Tak ada yang salah pada takdir, tak ada yang salah dengan perasaan, kita hanya terlalu masuk dalam labirin pikiran yang membingungkan. 
 Gulung lagi yang rapi sambungan demi sambungan itu. Sederhanakan saja katanya,,

Terinspirasi Hatimu