Langsung ke konten utama

Siti Nurbaya "based on true story"

Masih ingat dengan kisah Siti Nurbaya yang dijodohkan dengan Datuk Maringgih. Namun cinta Siti Nurbaya telah terpaut pada seorang pemuda bernama Samsul Bahri. Kisah ini pula yang ingin saya sampaikan kali ini...
Suatu hari seorang teman bercerita tentang sebuah percekapan lewat telepon dengan ibunya bahwa ada seorang pemuda yang akan dikenalkan dengan dirinya. Namun ia tak mampu berkata apa-apa kepada sang ibu bahwa telah ada pemuda lain yang terlebih dahulu menggait hatinya. Sejenak saya berpikir "malangnya nasib pemuda tersebut".
Untungnya sang gadis terlanjur berprasangka buruk kepada pemuda pilihan orang tuanya, walaupun hanya karena melihat foto sang pemuda pada salah satu jejaring sosial. Ternyata Samsul Bahri tidak selalu kalah dalam persaingan cinta. Namun apakah cinta sang gadis tidak akan berpaling dari Samsul Bahri? kita tak bisa memastikan. Bahkan saat ini bukannya Siti yang setia meunggu Samsul pergi merantau tapi malah Samsul yang sabar menanti kepulangan Siti dari negri seberang. 
Mari kita tunggu saja apa yang akan terjadi dengan kisah cinta mereka...

By...viola

Komentar

  1. hooiii.....yoooo...ndk saketk alahnyo kolakk....hahahhaha......dasaaarrrr

    BalasHapus
  2. ko dek saketek mah, klu banyak beda lo caritonyo...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Harapan.

Harapan adalah petunjuk arah bagi impian. Pohon ini menyimpan harapan dari anak-anak PSAA Budhi Bhakti.

Semoga semua harapan anak-anak ini dikabulkan oleh Allah SWT dan mereka menjadi anak-anak yang berkarakter positif dikemudian harinya...
Published with Blogger-droid v2.0.2

Cukup aku dan Tuhan yang tau

Sebenarnya apa yang bisa kita perbuat dengan rasa...
Tuhan yang telah menciptakan dan mengendalikan rasa

Kita tidak pernah ditawari kontrak untuk mencintai atau membenci seseorang dalam hidup
Tuhan yang mengatur pertemuan, perpisahan, rasa...

Tinggal dijalani
dengan bahagia
dengan kesal
dengan ikhlas
dalam hal ini kita yang tentukan

Kau boleh membenci aku atas kecewamu
Tapi aku tak akan pernah membencimu karna kecewaku
Aku tak akan pernah menyalahkan seperti yang kau lakukan

Siapa melempar energi negatif maka ia yang akan menuai sendiri hasilnya




metafora ku di akhir tahun

perjalanan hidup bagaikan berjalan di padang rumput yang luas tanpa ada halangan apapun didepan mata, karena sesungguhnya kita sendirilah yang membuat halangan itu sendiri.  Aku telah berlari dengan nyaman di padang rumput yang luas, tapi tiba-tiba muncul tembok yang besar didepanku. Walaupun aku tahu hal ini akan terjadi tapi aku tetap bersemangat dan yakin bisa menembusnya. Namun akhirnya aku hanya bisa lewat disamping tembok itu untuk terus berlari ke arah cahaya yang terang. Aku tak mampu menghancurkan penghalang itu, tak mampu menyakitinya.